Pak Mur: Dari Sampah Ke Eksportir
June 21, 2008
Tercengang aku dibuatnya saat menginjak lokasi SMK Bina Taruna di Sidoarjo, kemarin siang. Mencari salah satu pemilik perusahaan mebel yang sudah ekspor di sekolah yang terletak di pinggir jalan. Apalagi sekolah tersebut bukan sekolah mahal. Hanya sekolah rakyat.
Lebih tercengang lagi saat berjabat tangan dengannya. Bapak Mur, demikian dia mengenalkan dirinya. Dalam hati aku hanya bisa berkata, wow, wow, wow. Sosok pengusaha ekspor mebel dalam skala ukm yang mempertahankan kesederhanaannya. Lebih ekstrim lagi, mempertahankan komitmennya sebagai guru dan menjabat sebagai wakasek sampai hari ini. Sama sekali tidak ada raut kemewahan dalam diri bapak tersebut. Baju bermerek? Huh… tidak ada.
Bapak Mur, sosok pengusaha yang berangkat dari nol, dari tong sampah. Dia mengambil barang antik atau mebel bekas dari sampah para tetangganya. Barang-barang tersebut dibelinya. Kalau laku dijual, mereka mendapatkan bonus 15%. Wow… jujur banget. Tapi emang buahnya menjadi manis. Dia dipercaya oleh para tetangganya hingga hari ini bisa mengembangkan usahanya dan ekspor barang.
Wow…
Luar biasanya, sekalipun sudah menjadi pengusaha sukses yang seharusnya bisa bergelimang harta tapi dia nggak melakukannya. Dia tidak mau menunjukkan kemewahan hidup yang seharusnya mampu ia beli. Justru ia hidup sangat sederhana. Bahkan tetap mengabdi menjadi guru di sekolah yang tidak mewah.
Saat wawancara, pikiranku melayang sekelebat ke sebuah peristiwa yang baru saja aku alami. Kejengkelan luar biasa karena sebuah organisasi non profit kristiani di luar pulau yang mengaku membutuhkan dana tapi menyiakan sebuah kesempatan emas. Ketika aku mendapatkan informasi adanya sebuah dana hibah dari organisasi internasional bekerjasama dengan pemerintah Indonesia, dan aku sampaikan bulan lalu informasinya beserta dengan panduan proposal dari pemerintah. Menjelang tanggal deadline penyerahan proposal, wow, amburadul banget proposalnya. Terkesan dikerjakan 1-2 hari saja. Parahnya, lampiran-lampiran yang diminta panitia sama sekali tidak diikutsertakan. Huh, jengkel sekali hati ini. Katanya membutuhkan dana, sudah dibantu cari jalan, tapi kesempatan itu dibuang dengan manisnya.
Aku jadi berpikir, andaikata mereka seperti bapak ini yang mau memulai dari nol dan tidak membuang setiap kesempatan. Bahkan kalau perlu, mencari kesempatan itu di tong sampah. So, organisasi non profit kristiani tidak perlu lagi berteriak-teriak butuh dana.
Ada banyak hal yang aku pelajari dari Pak Mur. Pertama, kejujuran dalam berbisnis. Kedua, kesederhanaan dalam hidupnya yang tetap dipertahankan sekalipun sudah bergelimang harta alias sukses. Ketiga, tidak pernah membuang kesempatan yang ada bahkan kalau perlu dicari dari tong sampah.
Luar biasa Pak Mur!