OBED PU DENDAM MATEMATIKA
June 26, 2008
Suatu hari di sekolah, Obed dapat tanya dari Pak Guru Matematika.
Guru: “Obed, bayangkan ko punya 10 permen, trus ko bagi ke ko pu teman Nico 3 dan ke Acong 5, berarti ko punya permen tinggal berapa?”
Obed: “Itu gampang pak guru, sa pu permen tetap 10 pak…”
Pak Guru: “Kenapa begitu? Ko hitung bagemana kah?”
Obed: “Soalnya, Nico dan Acong dong dua pernah sembunyi sa pu kaos kaki jadi jang harap sa mo bagi apa-apa ke dong dua… sorry ee…”
Sumber: ketawa dot com
Terjemahan oleh Surga Geleng-Geleng:
Suatu hari di sekolah, Obed dapat pertanyaan dari Pak Guru Matematika.
Guru: “Obed, bayangkan kau punya 10 permen, trus kau bagi ke kau punya teman, Nico 3 dan ke Acong 5, berarti kau punya permen tinggal berapa?”
Obed: “Itu gampang pak guru, saya punya permen tetap 10 pak…”
Pak Guru: “Kenapa begitu? Kau hitung bagaimana kah?”
Obed: “Soalnya, Nico dan Acong mereka berdua pernah sembunyi saya punya kaos kaki jadi jangan harap saya mau bagi apa-apa ke mereka berdua… sorry ee…”
Dua Negro Dalam Lift
June 24, 2008
Oleh: Tidak Diketahui
Baru-baru ini di Atlantic City – AS, seorang wanita memenangkan sekeranjang
koin dari mesin judi. Kemudian ia bermaksud makan malam bersama suaminya.
Namun, sebelum itu ia hendak menurunkan sekeranjang koin tersebut di
kamarnya. Maka ia pun menuju lift.
Waktu ia masuk lift sudah ada 2 orang hitam di dalamnya. Salah satunya
sangat besar . . . Besaaaarrrr sekali. Wanita itu terpana. Ia berpikir, “Dua
orang ini akan merampokku.” Tapi pikirnya lagi, “Jangan menuduh, mereka
sepertinya baik dan ramah.”
Tapi rasa rasialnya lebih besar sehingga ketakutan mulai menjalarinya. Ia
berdiri sambil memelototi kedua orang tersebut. Dia sangat ketakutan dan
malu. Ia berharap keduanya tidak dapat membaca pikirannya, tapi Tuhan,
mereka harus tahu yang saya pikirkan!
Untuk menghindari kontak mata, ia berbalik menghadap pintu lift yang mulai
tertutup. Sedetik . . . dua detik . . . dan seterusnya. Ketakutannya
bertambah! Lift tidak bergerak! Ia makin panik! Ya Tuhan, saya terperangkap
dan mereka akan merampok saya. Jantungnya berdebar, keringat dingin mulai
bercucuran.
Lalu, salah satu dari mereka berkata, “Hit the floor” (Tekan Lantainya).
Saking paniknya, wanita itu tiarap di lantai lift dan membuat koin
berhamburan dari keranjangnya. Dia berdoa, ambillah uang saya dan biarkanlah
saya hidup.
Beberapa detik berlalu. Kemudian dia mendengar salah seorang berkata dengan
sopan, “Bu, kalau Anda mau mengatakan lantai berapa yang Anda tuju, kami
akan menekan tombolnya.” Pria tersebut agak sulit untuk mengucapkan
kata-katanya karena menahan diri untuk tertawa.
Wanita itu mengangkat kepalanya dan melihat kedua orang tersebut. Merekapun
menolong wanita tersebut berdiri. “Tadi saya menyuruh teman saya untuk
menekan tombol lift dan bukannya menyuruh Anda untuk tiarap di lantai lift,”
kata seorang yang bertubuh sedang.
Ia merapatkan bibirnya berusaha untuk tidak tertawa. Wanita itu berpikir ,
“Ya Tuhan, betapa malunya saya. Bagaimana saya harus meminta maaf kepada
mereka karena saya menyangka mereka akan merampokku.” Mereka bertiga
mengumpulkan kembali koin-koin itu ke dalam keranjangnya.
Ketika lift tiba di lantai yang dituju wanita itu, mereka berniat untuk
mengantar wanita itu ke kamarnya karena mereka khawatir wanita itu tidak
kuat berjalan di sepanjang koridor. Sesampainya di depan pintu kamar, kedua
pria itu mengucapkan selamat malam, dan wanita itu mendengar kedua pria itu
tertawa sepuas-puasnya sepanjang jalan kembali ke lift.
Wanita itu kemudian berdandan dan menemui suaminya untuk makan malam.
Esok paginya bunga mawar dikirim ke kamar wanita itu, dan di setiap kuntum
bunga mawar tersebut terdapat lipatan uang sepuluh dolar.
Pada kartunya tertulis: “Terima kasih atas tawa terbaik yang pernah kita
lakukan selama ini.”
Tertanda:
Eddie Murphy & Michael Jordan
(Eddie Murphy adalah bintang film Holywood, dan Michael Jordan adalah
bintang basket NBA)
Dari Sabang Sampai Sorong
June 22, 2008
Pace dari Sorong: “Eh ko orang Merauke, awas kalo ko pi Jakarta, ko jangan berani lewat Sorong eeee.”
Pace dari Merauke tra mau kalah: “Eh ko orang Sorong, awas ko kalo upacara, jangan ko berani menyanyi Dari Sabang sampai Merauke. Ko stop saja di Sorong eeee..”
Pria dari Sorong: “Eh kau orang Merauke, awas kalo kau pergi ke Jakarta, kau jangan berani lewat Sorong eeee.”
Pria dari Merauke tidak mau kalah: “Eh kau orang Sorong, awas kau kalo upacara, jangan kau berani menyanyi ‘Dari Sabang sampai Merauke’. Kau stop saja di Sorong eeee..”
Pendeta yang Ngebut Ditilang Polisi
June 22, 2008
“Apa yang anda lakukan? Anda mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi.”
Salah satu Pendeta berkata, “Kami mengendarai sepeda motor ini hanya sekedar putar-putar…..lihatlah motor ini memang sangat bagus dan kencang larinya.”
Si Polisi menggeleng-gelengkan kepalanya, “Bagaimanapun juga, saya harus menilang anda. Mengemudi seperti itu sangat membahayakan jiwa anda. Bagaimana kalau anda mengalami kecelakaan?”
Kemudian Pendeta berkata lagi, “Jangan khawatir, Tuhan Yesus beserta kami.”
Si Polisi berkata, “Wah, kalau begitu saya harus benar-benar menilang anda, karena tiga orang dilarang berada dalam satu motor sekaligus.”
Kendala yang Perlu Didoakan
June 22, 2008
Ternyata di kampung tersebut sedang diadakan pembangunan gereja. Setelah mengetahui bahwa ada pembangunan gereja, ia pergi ke rumah pendeta untuk memberikan sumbangan bagi pembangunan gereja.
Lalu pengusaha itu berkata, “Pak pendeta, saya sangat senang dapat memberi bantuan sumbangan pada gereja, tetapi karena saya mendapat ‘kendala’ maka hanya ini saja yang dapat saya berikan pada saat ini.”
Pendeta itu menerima yang diberikan pengusaha itu, tetapi ia tidak tahu apa arti kata “kendala”. Lalu di gereja ia mengumumkan, “Saudara-saudara sekalian, pada saat ini telah diterima sumbangan dari seorang pengusaha yang sedang mendapat ‘kendala.’ Jadi mari kita doakan Bapak ini agar terus mendapat kendala, sekian.”
Pak Mur: Dari Sampah Ke Eksportir
June 21, 2008
Tercengang aku dibuatnya saat menginjak lokasi SMK Bina Taruna di Sidoarjo, kemarin siang. Mencari salah satu pemilik perusahaan mebel yang sudah ekspor di sekolah yang terletak di pinggir jalan. Apalagi sekolah tersebut bukan sekolah mahal. Hanya sekolah rakyat.
Lebih tercengang lagi saat berjabat tangan dengannya. Bapak Mur, demikian dia mengenalkan dirinya. Dalam hati aku hanya bisa berkata, wow, wow, wow. Sosok pengusaha ekspor mebel dalam skala ukm yang mempertahankan kesederhanaannya. Lebih ekstrim lagi, mempertahankan komitmennya sebagai guru dan menjabat sebagai wakasek sampai hari ini. Sama sekali tidak ada raut kemewahan dalam diri bapak tersebut. Baju bermerek? Huh… tidak ada.
Bapak Mur, sosok pengusaha yang berangkat dari nol, dari tong sampah. Dia mengambil barang antik atau mebel bekas dari sampah para tetangganya. Barang-barang tersebut dibelinya. Kalau laku dijual, mereka mendapatkan bonus 15%. Wow… jujur banget. Tapi emang buahnya menjadi manis. Dia dipercaya oleh para tetangganya hingga hari ini bisa mengembangkan usahanya dan ekspor barang.
Wow…
Luar biasanya, sekalipun sudah menjadi pengusaha sukses yang seharusnya bisa bergelimang harta tapi dia nggak melakukannya. Dia tidak mau menunjukkan kemewahan hidup yang seharusnya mampu ia beli. Justru ia hidup sangat sederhana. Bahkan tetap mengabdi menjadi guru di sekolah yang tidak mewah.
Saat wawancara, pikiranku melayang sekelebat ke sebuah peristiwa yang baru saja aku alami. Kejengkelan luar biasa karena sebuah organisasi non profit kristiani di luar pulau yang mengaku membutuhkan dana tapi menyiakan sebuah kesempatan emas. Ketika aku mendapatkan informasi adanya sebuah dana hibah dari organisasi internasional bekerjasama dengan pemerintah Indonesia, dan aku sampaikan bulan lalu informasinya beserta dengan panduan proposal dari pemerintah. Menjelang tanggal deadline penyerahan proposal, wow, amburadul banget proposalnya. Terkesan dikerjakan 1-2 hari saja. Parahnya, lampiran-lampiran yang diminta panitia sama sekali tidak diikutsertakan. Huh, jengkel sekali hati ini. Katanya membutuhkan dana, sudah dibantu cari jalan, tapi kesempatan itu dibuang dengan manisnya.
Aku jadi berpikir, andaikata mereka seperti bapak ini yang mau memulai dari nol dan tidak membuang setiap kesempatan. Bahkan kalau perlu, mencari kesempatan itu di tong sampah. So, organisasi non profit kristiani tidak perlu lagi berteriak-teriak butuh dana.
Ada banyak hal yang aku pelajari dari Pak Mur. Pertama, kejujuran dalam berbisnis. Kedua, kesederhanaan dalam hidupnya yang tetap dipertahankan sekalipun sudah bergelimang harta alias sukses. Ketiga, tidak pernah membuang kesempatan yang ada bahkan kalau perlu dicari dari tong sampah.
Luar biasa Pak Mur!